Thursday, 18 December 2008
About Valentino Rossi

> VALENTINO ROSSI dilahirkan di Urbino tanggal 16 Februari 1979. Anak dari Graziano Rossi [juara tiga 250 cc World Championship tahun 1979], Valentino, mulai membalap di kejuaraan motor mini pada tahun 1992.
> Tahun 1993 memulai debutnya bersama Cagiva di kejuaraan Italiano Sport Production kelas 125 cc dan menduduki posisi ke-12 musim itu. Tahun 1994 masih bersama Cagiva ia menduduki urutan pertama di klasemen. Tahun 1995 ia pindah ke tim Sandroni-Aprilia dan memenangkan kejuaraan 125 cc Italia dan di tahun yang sama berada di urutan ketiga di kompetisi Eropa.
> Tanggal 31 Maret 1996, kesempatan itu datang juga, debut di kejuaraan dunia kelas 125 cc masih bersama Aprilia di tim Scuderia AGV, Valentino terbang ke Malaysia untuk balapan pertamanya. Dia masih berusia 17 tahun, berat 70 kg, termasuk pemain paling berat di kelasnya. Saat itu dia finish di urutan keenam. Kemudian di seri berikutnya di Spanyol dan Italia, Valentino finish di urutan keempat.
> Kemudian Valentino akhirnya berhasil naik podium di Austria, saat dia finish di urutan ketiga. Hari itu tanggal 4 Agustus 1996. Tavullia pun mengadakan pesta. Itu belum semuanya. Dua minggu kemudian dia menang di Brno dan kemudian berada di posisi kelima saat berlomba di Imola. Dengan sedikit kecewa, karena Imola hanya sepelemparan batu dari kota kelahirannya!
- Final Championship position [125 cc musim 1996] : urutan ke-9 dengan 111 angka
- Menang: 1 kali [GP Ceko]
> Pada tahun 1997, Valentino kembali mencoba merintis jalan untuk meraih gelar juaradunia di kelas 125 cc dan kali ini dia berhasil, meraih 11 kemenangan dalam satu musim: diantaranya termasuk kemenangan di Mugello dan Imola. Setiap kemenancan Valentino selalu dimeriahkan dengan aksi kreatif khas Vale: mulai dari bergaya ala Robin Hood sampai dengan membawa sebuah boneka karet yang diberikan oleh fansnya.
- Menjadi pembalap termuda kedua [18 tahun 196 hari] yang meraih gelar juara dunia 125 cc bersama Nastro Azzura Aprilia Team
- Final Championship position [125 cc musim 1997] : urutan ke-1 dengan 321 angka
- Menang : 11 kali [Malaysia, Spanyol, Italia, Perancis, Belanda, Imola, Jerman, Brasil, Inggris, Catalunya dan Indonesia]
> Tahun 1998 Vale naik ke kelas 250cc, tetap bersama tim Aprilia Nastro Azzura, dan setelah melalui awal yang buruk [banyak sekali mengalami kecelakaan saat membalap], Vale memenangkan lima seri terakhir musim itu meskipun tidak bisa meraih gelar juara dunia [sebagai catatan, musim itu setiap kali Vale berhasil finish tidak pernah di luar tiga besar, selalu naik podium].
- Final Championship position [250 cc musim 1998] : urutan ke-2 dengan 201 angka
- Menang : 5 kali [Belanda, Imola, Catalunya, Australia dan Argentina]
> Tahun 1999 Vale yang masih betah di Aprilia, memulainya dengan tidakmenggembirakan, tapi setelah dua seri, dia bangkit dan memulai serangkaian sukses sampai akhir musim dengan 9 gelar juara seri, dan membawanya menjadi juara dunia kelas 250 cc saat dia baru berusia 20 tahun.
- Menjadi pembalap termuda [20 tahun 250 hari] yang meraih gelar juara dunia 250 cc bersama Aprilia Grand Prix Racing Team
- Final Championship position: urutan ke-1 dengan 309 angka
- Menang : 9 kali [Spanyol, Italia, Catalunya, Inggris, Jerman, Ceko, Australia, Afrika Selatan dan Brasil]
> Tahun 2000, Valentino berkat pendekatan dari Michael Doohan, memutuskan pindah ke tim baru, Nastro Azzuro Honda, dan hijrah ke kelas lebih tinggi 500 cc. Sampai setengah musim Vale tampak berusaha menyesuaikan diri dengan motor barunya, dia sering terjatuh, sama seperti saat dia baru masuk ke kelas 125 cc dan 250 cc, dan kemudian bangkit di pertengahan musim. Vale mulai stabil naik podium demi podium, tapi kebangkitannya sudah terlambat, karena selisih nilai dengan Kenny Roberts terlanjur jauh.
> Sampai akhir musim Vale mengoleksi dua gelar juara [Inggris dan Brasil], 3 posisi kedua dan 5 posisi kelima dengan total poin 209, dan itu sudah cukup membuatnya menduduki urutan kedua dunia dan menyabet gelar Rookie of The Year. Dengan kata lain, Vale harus menunggu gelar juara dunianya sampai musim 2001.
> Tahun 2001, seperti diperkirakan pengamat, menjadi tahunnya Rossi. Empat seri pertama musim ini menjadi milik Valentino. Dan gp seri 14 di Phillip Island circuit Australia jadi saksi penobatan Rossi sebagai juara dunia, melengkapi koleksi gelar juara dunia menjadi tiga kali dan pembalap termuda sepanjang sejarah yang pernah meraih juara dunia di tiga kelas yang berbeda.
Mantan presiden Dilempar Sepatu?

PELEMPARAN sepatu terhadap Presiden Amerika Serikat George Walker Bush saat jumpa pers dengan Perdana Menteri Irak Nuri Al Maliki beberapa hari lalu menjadi perbincangan hangat baik dari kalangan pejabat, politisi, hingga tukang ojek di warung-warung kopi.
Sebagai sebuah berita, peristiwa ini merupakan berita yang sangat seksi, langka, dan menghebohkan. Bagaimana tidak, seorang presiden dari negara adidaya bisa ditimpuk sepatu begitu saja oleh seorang wartawan lokal. Di manakah CIA, FBI, dan Secret Security Amerika yang selalu didengung-dengungkan paling hebat ketimbang di negara lainnya?
Meski begitu, beruntung Bush memiliki reflek yang cukup bagus. Sehingga sepasang sepatu yang dilempar Muntazer Al Saidi, seorang wartawan Televisi Al Bhagdadia ini tidak berhasil mengenai muka Bush.
Memang, dari peristiwa itu Bush tidak merasakan sakit apapun, karena sepatu milik Muntazer tidak mengenainya. Namun, sorotan televisi yang menangkap peristiwa ini dan menyiarkannya ke seantero dunia, merupakan 'pelemparan sepatu' yang sesungguhnya. Mungkin lain lagi ceritanya, jika peristiwa ini tidak berhasil ditangkap kamera.
Muntazer mungkin hanya mendapatkan ancaman penjara 15 tahun, namun hukuman bagi Bush lebih berat lagi. Pasalnya, dia akan mengakhiri masa jabatannya pada 20 Januari mendatang. Pelemparan sepatu tersebut merupakan hadiah paling buruk dari invasinya ke negara Saddam Husein tersebut.
Di mata Bush dan pendukungnya, Muntazer bisa disebut sebagai seorang penjahat, penghina kepala negara, dan julukan buruk lainnya. Tapi di negara-negara di mana Bush dan Amerika adalah musuhnya, maka Muntazer akan dielu-elukan sebagai pahlawan yang pemberani. Atau bahkan di Irak, popularitas Muntazer bisa saja melebihi Saddam Husein.
Peristiwa ini bisa terjadi di mana saja. Bahkan di Indonesia sekalipun. Bahkan, saking takutnya virus 'sepatu Bush' ini menjalar ke Indonesia, Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan berkelakar meminta agar wartawan mengikat tali sepatunya.
Namun, bukan berarti kejadian hampir mirip tidak pernah terjadi di Indonesia. Masih ingat dengan peristiwa Dirut PLN Eddie Widiono yang dilempar telor busuk oleh mahasiswa.
Mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur juga pernah mengalami hal yang mirip. Mantan Ketua PBNU ini pernah diusir laskar Front Pembela Islam saat mengisi diskusi di Solo. Bahkan, kabarnya Gus Dur pernah ditimpuk dengan aqua karena pernyataannya, namun tidak sampai mengenainya.
Selain itu, almarhum Sukowaluyo, pendiri Partai Demokrasi Pembaruan, juga pernah diludahi pendukung Megawati di daerah, saat sedang mengkampanyekan pembaruan di PDIP, sebelum kongres di Bali.
Peristiwa demi peristiwa ini kemungkinan besar akan terus terjadi. Tidak tertutup kemungkinan di Pemilu 2009 di mana suhu politik memanas, akan ada upaya menjatuhkan citra calon presiden dan calon wakil presiden dengan cara tersebut.
Lalu bagaimanakah cara mengatasinya? Apakah setiap calon pejabat negara harus dilatih agar memiliki reflek yang baik, agar tidak kena timpuk sepatu seperti Bush. Atau pertemuan antara pejabat dengan masyarakat atau wartawan diperketat?.
Namun, menurut penulis peristiwa tersebut tidak akan terulang sepanjang pejabat negara dalam mengeluarkan kebijakannya, berpikir dengan matang dan tidak merugikan rakyat banyak, apalagi rakyat dari negara lain.
